Minggu, Januari 06, 2008

Minggu Sore di Hok Ling


Minggu sore (6/1/2008) aku berjalan-jalan bersama salah seorang kawan. Tio Felixio. Artis pendatang baru dari Juwana yang lagi liburan setelah lama berpenat-penat dengan pekerjaan yang melelahkan.
Hari itu, dia menyambangi Gubug saya di Kampung. Di Desa Jepang. Setelah ngobrol beberapa saat, kita pun sepakat jalan-jalan dengan sepeda motor. Yah, meski artis, naik motor juga gak apa, khan? ha ha ha ....
Setelah muter-muter sebentar, akhirnya sampailah kita di Klenteng (Bio) Hok Ling, Kudus, yang tak juah letaknya dengan Menara Kudus. Disitu kita berhenti dan melihat-lihat di dalam kelenteng. Menurut pak Suyantno, juru kunci kelenteng, Klenteng ini dibangun pada abad 15. Umurnya lebih tua dari Masjid dan Menara Kudus.
Dengan pak Yatno, kami banyak berbincang. Kita juga dapat pelajaran menarik seputar filosofi bangunan dan apa-apa yang terdapat di dalamnya. Seperti kenapa ada Lampion. "Lampion ini adalah sebagai penerangan," kata Bapak yang berasal dari Desa Kutuk, Undaan Kudus. Di Lampion itu, tertulis nama-nama penyumbang.
Selain itu, ada Naga. Naga, menurut pak Yatno ada perwujudan dari Dewa Bumi. Sementara patung dua Singa din Kelenteng, adalah personifikasi dari pengawal Dewa. "Di setiap Kelenteng, pasti ada patung Singa-nya," ujar Pak Yatno.
Ya, kita dapat banyak pelajaran di hari itu. Keramahan. Bahkan, kita juga dikasih buku-buku.
Makasih, pak ....

0 komentar:

Template Design | Elque 2007